MI NW NO.1 BORO’TUMBUH | Lestarikan Permainan Tradisional yang Hampir Punah

Abduh Sempana
Kabartumbuhmulia: Pada era 90-an kita tidak asing dengan permainan bulu pakoq, pepekoq, main geleng, main benteng, celodor dan lain sebagainya.  Tapi seiring waktu,  kini permainan-permainan yang mengasyikkan itu secara perlahan tapi pasti telah menghilang, diambil alih oleh video game, play station, internet dan lain sebagainya. Padahal jika ditelaah lebih jauh, permainan-permainan tradisional tersebut penuh dengan isyarat kearifan lokal. Misalnya seorang anak diajarkan untuk menerima kenyataan hidup. Kemenangan mengajarkan anak agar tidak sombong, atau menanamkan sifat jujur pada diri seorang anak.

Meskipun tidak semua permainan tradisional yang memiliki pengaruh positif, tapi apakah seluruhnya akan punah begitu saja? Nah, untuk itu sekolah-sekolah menyaring permainan tradisinal tersebut untuk diajarkan atau diperkenalkan kepada generasi sekarang.

Contohnya di MI NW No.1 Boro’Tumbuh, mengajarkan muatan lokal yang isinya permainan tradisional suku sasak.

Permainan tradisional sendiri merupakan  suatu kegiatan yang dilakukan untuk menyenangkan hati dengan atau tanpa alat-alat yang berasal dari lingkungan sekitar.

Berikut ini adalah beberapa permainan tradisional yang diperkenalkan kembali kepada peserta didik di MI NW No.1 Boro’Tumbuh

1. Main bageq (Degelan)


main bageq

Main bagiq merupakan permainan tradisional yang menggunakan biji asam sebagai alat permainan. “Bagiq” artinya asam. Sedangkan “degel” artinya gol atau menang. Karena pihaknya yang menang disebut “degel”.

Main bagiq biasanya dilakukan oleh dua orang atau lebih. Masing-masing pihak mengeluarkan biji asam sesuai kesepakatan. Bisa dengan hitungan perbiji atau dengan “cawangan” alias perkiraan.

Biji-biji asam yang dikeluarkan oleh peserta dimasukkan ke dalam lubang yang berbentuk silinder. Kedalamannya tergantung usia anak yang bermain. Kalau orang dewasa bisa sampai 30 cm. Tapi kalau anak-anak biasanya sedalam telapak tangan saja.

Setelah asam dimasukkan lalu perserta bergiliran memukul asam yang ada di dalam lubang dengan memakai katuq. Katuq adalah  biji asam yang berukuran lebih besar dari biji asam lainnya. Jika peserta mampu menaikkan biji asam di dalam lubang dengan katuq tersebut maka peserta dianggap menang dan berhak mengambil biji-biji asam yang ada di dalam lubang. Tapi dengan syarat katuq tidak ikut naik tapi yang naik adalah salah satu atau lebih biji asam yang ada di dalam lubang tersebut. Inilah yang dinamakan dengan “degel”. Setelah degel barulah para peserta memasang kembali “sangan” atau persediaan biji asam yang dimiliki. Begitu seterusnya sampai sangan masing-masing peserta habis dan dikumpulkan oleh salah satu orang.

Dari proses permaian bagiq tersebut banyak hal yang bisa diperoleh pelajaran. Misalnya ketika peserta mengeluarkan sangan. Di sini anak-anak akan berlatih jujur. Karena kadang ada anak yang curang dan tidak menaati pertaturan.

2. Main Kayu (Tek-Tekan)


main tek-tekan

Main kayu atau tek-tekan adalah permainan tradisional yang menggunakan media kayu. Kalau di bagian Suralaga Lombok Timur  permainan ini disebut dengan “main sungkit”, sedangkan di Jawa disebut “main katrek

Permainan ini menggunakan dua buah kayu yang terdiri dari kayu induk/kayu panjang (35 cm, bisa kurang, bisa lebih), dan  anak kayu/kayu pendek (12 cm,bisa kurang, bisa lebih). Permainan ini ini bisa dilakukan oleh perorangan maupun kelomppk.

Adapun urutan permainannya, diawali dengan pengundian bisa dengan suit atau hom pim pang. Peserta yang menang suit atau hom pim pang berhak main lebih dahulu. sementara yang kalah menjadi penjaga.

Peserta yang menang tadi akan mengungkit anak kayu dengan menggunakan induk kayu. Jika anak kayu itu bisa ditangkap oleh yang menjaga maka kesempatan main peserta pertama berakhir. Tapi kalau belum ada yang mampu menangkap ia berhak melanjutkan permainan.

Langkah kedua, peserta akan memukul anak kayu tersebut dengan induk kayu. Ia akan berusaha memukul sejauh-jauhnya. Karena semakin jauh akan semakin banyak poin yang didapat.

Setelah itu, peserta akan melanjutkan permain dengan memukul kembali anak kayu tersebut. Tapi kali ini anak kayu diletakkan pada lubang tempat mengungkit. Pukulan pertama di tanah, lalu pentalannya di udara akan pukul kembali beberapa kali. Kalau ia tidak mampu memukul pentalannya di udara  itu, maka permainan akan gagal. Tapi kalau berhasil memukul satu kali saja ia akan mendapatkan poin. Apalagi kalau sampai bisa memukul dua atau tiga kali ia akan dianggap hebat dan berhak mendapatkan poin yang sangat banyak, dan bisa jadi ia akan menjadi pemenagnnya. Dengan begitu ia berhak melanjutkan permainan. Sementara peserta yang lain akan mendapatkan sanki dan tetap menjadi penjaga.

3. Perisaian


perisaian

Perisaian adalah seni bela diri tradisional Suku Sasak. Konon dahulu permainan ini menggunakan pedang tapi seiring waktu, karena dianggap terlalu berbahaya, lalu medianya diganti dengan menggunakan rotan. Tapi ujung rotan dilumuri aspal yang dicampur dengan pecahan beling yang ditumbuk halus. Sedangkan untuk latihan anak-anak sering menggunakan pelepah pisah atau kayu sebagai alat pemukulnya.

Selain menggunakan alat pemukul rotan, permainan ini juga memakai tameng atau alat penangkis yang disebut "ende". Tameng tersebut biasanya terbuat dari kulit. Tapi kalau untuk latihan anak-anak sering menggunakan barang bekas dus mie instan dan lain sebagainya.

Perisaian dimainkan oleh dua orang laki-laki dan diadu oleh pengembar (juri). Sementara musik tradisional mengiringi selama pertandingan berlangsung. Sehingga pemain atau yang disebut “pepadu” akan ngigel atau joget di tengah ring. Anehnya meskipun dia kena oleh sabetan rotan ia akan tetap ngigel sebagai pertanda bahwa ia belum kalah.  Dan peserta yang kalah biasanya mengalami luka bocor di kapala. Lalu pertandingan usai dan pemenang berhak menyandang gelar “pepadu” dan mendapatkan hadiah dari panitia.

Itulah beberapa permainan tradisional yang diperkenalkan pada pelajaran mulok di MI NW No.1 Boro'Tumbuh.

Comments